Memahami “Manunggaling Kawula Gusti”
April 27, 2009
Benarkah Wahabi Di Asaskan Oleh Inggeris? Satu Renungan Sejarah
May 1, 2009

Sesunggunya gerakan sufi itu merupakan pola hidup zuhud terhadap dunia. Zuhud ertinya menghindari hidup berfoya-foya dan bergaya hidup mewah. Dengan hidup zuhud diharapkan seorang hamba menjadi tekun menjalankan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Pola hidup zuhud ini dilakukan oleh sejumlah ulama sebagai reaksi terhadap kehidupan mewah dan tiada beragama dari sebagian umat Islam di zaman itu, terutama kumpulan berada. Hidup mewah umat Islam pada saat itu kerana dipengaruhi oleh kejayaan empayar politik Islam yang berhasil menguasai daerah-daerah subur dan kaya sejak abad pertama hijriyah.


Para ulama menerapkan pola hidup zuhud terhadap dunia dengan maksud menggunakan kehidupan yang benar-benar Islam, sebagimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan umat Islam pada awal abad pertama hijriyah.

Ketika Islam berjaya dan Rasulullah saw telah wafat, begitu juga satu persatu para sahabat dan khulafaur rasyidin pergi meninggalkan mereka, ada gejala kecenderungan hidup berfoya-foya, yang mana hidup berfoya-foya itu dinilai oleh ulama sebagai penyimpangan dari ajaran islam. Oleh kerana itu, sebagian ulama berpendapat bahawa gerakan sufi sesungguhnya adalah gerakan pengembalian islam secara asli.

Munculnya gerakan sufisme juga dipicu oleh kehidupan beragama yang terlalu formal dan mengabaikan aspek batiniah. Sepeninggal Rasulullah saw seluruh jazirah Arab telah menyatakan tunduk kepada pemerintahan Madinah. Tidak terlalu lama kemudian, daerah kekuasaan politik (empayar) islam berkembang dengan cepat, meluas sampai meliputi daerah yang terbentang dari sungai Nil di bagian barat dan sungai Oxus di timur.

Ketika itu umat islam di Madinah benar-benar berjaya luar biasa. Berjaya di bidang politik dan pertahanan ternyata membawa berbagai akibat yang sangat luas. Salah satunya adalah sistem hukum sebagai salah satu alat untuk pengatur masyarakat. Aturan hukum yang kemudian dikenal dengan istilah fiqh. Lama-kelamaan istilah figh kemudian menjadi sentral dalam pemikiran agama. Dengan begitu, seringkali agama dikaitkan sebagai fiqh. Kerana yang demikian itu, maka pandangan terhadap keislaman seseorang hanya diukur bersadarkan kepatuhannya terhadap aturan fiqh.

Padahal, istilah fiqh mengandung makna asli pemahaman mendalam. Identik juga dengan syari`ah, yang secara bahasa bererti jalan menuju sumber air. Pada mulanya istilah syari`ah digunakan dalam Al-Qur`an untuk menunjuk pada suatu konsep yang luas mencakup kebenaran spiritual sufi (hakikat), kebenaran akal pada filosofi dan teologi, serta kebenaran hukum (fiqh).

Selain hal tersebut, negara yang dibentuk oleh pemerintah islam di Madinah sangat memerlukan fiqh (hukum) kerana seringkali terancam oleh berbagai tindak pembunuhan dan kekacauan. Negara tidak saja memerlukan ketertiban dan keamanan, tetapi juga kepastian hukum. Dalam keadaan seperti ini, kesalihan seseorang dalam beragama diukur berdasarkan kepatuhan terhadap hukum (fiqh). Konsep yang berkembang seperti ini perlahan-lahan membawa seseorang memahami agama sebatas aspek lahiriah saja (tinglah laku saja). Kemudian mengabaikan hal-hal yang berkenaan dengan batiniah (spiritual). Keadaan yang demikian inilah oleh golongan zuhud dianggap sebagai pengamalan agama sebatas pada formalitas saja, pengamalan agama yang hanya mengutamakan segi tingkah laku dan lahiriah.

Orang-orang yang cenderung kepada ilmu fiqh yang berpusat pada masalah-masalah fiqiyah menyebut dirinya sebagai faham keagamaan (fiqh) dan jalan yang benar (syari`ah). Sedangkan orang-orang zuhud yang berorientasi pada pengamalaman spiritual juga mengatakan bahawa dirinya sebagai pengetahuan (ma`rifah) dan jalan menuju kebahagiaan (tariqah).

 

PERKEMBANGAN  FAHAMAN SUFI DARI WAKTU KE WAKTU

 
Sesungguhnya faham sufi (sufisme) itu berkembang dari waktu ke waktu mengikuti keadaan zaman. Sejak zaman Rasulullah saw hinnga sekarang, banyak diwarnai dengan keragaman. Adapun keragaman tersebut muncul dalam beberapa tahapan perkembangan.

Sebagian ulama berpendapat, ayat-ayat Al-Qur`an yang turun di Mekkah -masa Makkiyah- sudah menekankan betapa pentingnya spiritual, dalam kaitannya tentang orientasi kenabian dan tentang wahyu. Dikisahkan pengalaman spiritual kenabian yang dilalui Rasulullah saw (dikenal dengan Isra` Mi`raj), misalnya :

“Demi bintang ketika terbenam. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?” (QS. An Najm 1-12)

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Isra` 1)

Sebagian ulama filosof mengatakan, bahawa pengalaman isra` mi`raj Nabi lebih kepada pengalaman spiritual. Para yang mendapat cerita tentang isra` mi`raj langsung menerima dan mereka tidak bertanya mengenai pengalaman-pengalaman tersebut. Ada sejumlah alasan mengapa demikian, kerana mereka dilatih untuk suatu tujuan moral atas dasar keagamaan. Lagi pula aktiviti mereka telah membuat mereka cnederung untuk tidak bertanya-tanya tentang rahsia metafisik itu. Kedua, mereka menganggap bahawa pengalaman-pengalaman spiritual Nabi saw tersebut merupakan ciri khas seorang rasul atau utusan Tuhan. Sedangkan kewajiban mereka hanya mengimani dan melaksanakan apa yang diyakininya itu.

Dalam masa ini, Rasulullah saw menanamkan kepada umatnya -walaupun pada tingkatan yang berbeza- suatu keyakinan tentang ketuhanan, keesaanNya, kemahakuasaanNya, serta perasaan mendalam pada pertanggungjawapan dihadapan pengadilan Tuhan menyangkut perilaku selama di dunia.

Ajaran Rasulullah ini mendapat sambutan yang mendalam oleh para sahabat, terutama yang sangat dikenal adalah Abu Dzar Al Ghiffari. Dimana sepeninggal Rasulullah, Abu Dzar merupakan tokoh penting yang dikenal keshalihannya dimata penduduk Madinah. Keshalihan Abu Dzar inilah yang kemudian menjadi tunjak bagi perkembangan zuhud (sufi) dua abad pertama Hijriyah.

Pada perkembangan berikutnya, keshalihan beragama secara spiritual ini muncul dalam bentuk kehidupan zuhud. Kemunculan kehidupan zuhud dipengaruhi oleh kondisi umat islam disaat itu yang tenggelam dalam menikmati kemewahan duniawi. Kemewahan duniawi itu dipengaruhi oleh keberhasilan pemerintahan islam dalam mengembangkan politik dan militer hingga ke seluruh jazirah Arabia.

Menurut sebahagian ulama, kehidupan zuhud semata-mata merupakan reaksi terhadap kehidupan sikular dan sikap penguasa Dinasti Umayyah yang dianggap kurang beragama. Ertinya, Dinasti Umyyah telah meninggalkan keshalihan dan kesederhanaan hidup sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat empat.

Dua abad sesudah hijriyah, kemudian bermunculan tokoh-tokoh (ulama) zuhud mengembangkan konsep spiritual (batiniah) dalam beribadah disamping konsep syariat. Lalu muncullah istilah sufisme (gerakan sufi) sebagai protes terhadap kehidupan umat islam yang dianggap kurang beragama kerana tenggelam dalam kemewahan duniawi. Diantara dari para ulama zuhud itu, salah satu yang sangat terkenal adalah Hasan al-Bashri. Pengaruh konsep ajarannya demikian kuat selama berabad-abad.

Setelah itu, tradisi hidup sufi dikenal sebagai cara tertentu. Pada masa itu konsep ulama zuhud yang sangat populer adalah pemahaman tentang tawakkal (berserah diri kepada Tuhan). Kemudian berubah menjadi dokrin-dokrin yang sangat mencolok. Mereka menempuh jalan sufi dengan menyerahkan diri secara totalitas kepada Allah.

Dari sini kemudian muncul ulama-ulama sufi besar seperti Malik bin Dinar, Ibrahim bin Adham, Rabi`ah al Adhawiyah dan masih banyak lagi.

Kencenderungan pengaruh ajaran sufi pada saat itu misalnya dapat dijumpai dalam cerita tentang bagaimana Malik bin Dinar mencari nafkah (rezeki).

Malik bin Dinar memilih hanya memiliki sebidang tanah. Dimana, sebidang tanah itu dia mengusahakan kehidupan tanpa menggantungkan dirinya kepada orang lain. Sementara Wasi` lebih menyukai menjadi orang yang jika makan tidak peduli dari mana dia akan memperoleh makanan lagi nanti.

Ciri khas gerakan pada masa itu hanyalah pada zuhud dan rajin beribadah yang bertujuan untuk membersihkan jiwa secara lahir bathin. Belum ada teori-teori khusus yang menonjol.

Baru pada abad ketiga hijriyah, muncul ulama-ulama besar dalam tradisi sufi, diantaranya ialah Al Muhasibi, Dzun Nun Al Misri, Abu Yazid al Bistami, Junaid Al Baghdadi dan Abu Manshur al Halajj.

Ulama-ulama sufi tersebut menggunakan kebiasaan (tradisi) berpikir yang berkembang pada masa itu. Dzun Nun Al Misri memiliki konsep sufi yang dikenal “al ma`rifah” (pengetahuan). Abu Yazid al Bistami merumuskan konsep yang disebutnya “Al Ittihad (penyatuan hamba dengan Tuhan). Adapun Abu Manshur al Hallaj yang dikenal dengan Al Hallaj merumuskan konsep yang disebut “Al Hulul” “(Tuhan mengambil tempat dalam diri seseorang).

Sesungguhnya konsep-konsep tersebut semula tidak dikenal dalam islam. Konsep tersebut hanyalah pengaruh dari beberapa tradisi pemikiran yang ada. Namun dengan konsep tersebut, para sufi meyakini memperoleh pengetahuan tidak dengan alat indrawi atau akal sebagaimana yang ditempuh oleh para filsuf dan teolog, melainkan dengan hati dan perasaan.

 

Konflik Antara Tradisi Sufi dan Tradisi Fiqh

 
Pada perkembangan berikutnya, konsep sufisme tersebut kemudian menimbulkan konflik tajam antara tradisi fiqh dengan tradisi sufisme. Para elit birokrat dan ulama-ulama (fiqh) melarang ajaran sufi kerana dianggap sebagai bukan ajaran agama islam. Pemikiran dan ajaran “Ittihad” dan “hulul” menjadi sasaran kritik. Dianggap sebagai ajaran sesat oleh ulama-ulama yang cenderung kepada tradisi fiqh. Bahkan konflik tersebut pada penghujungnya meminta korban nyawa Al Halajj. Kita tahu bahawa Al Halajj dianggap telah menyimpang dari ajaran islam (fiqh) kemudian dihukum oleh penguasa Baghdad pada tahun 922 Hijriyah. Hal itu kerana pernyataan Al Halajj sendiri “Ana al-haq” (Aku adalah Tuhan). Inilah yang semakin memancing emosional ulama dan penguasa sehingga Al Halajj berikut konsep ajarannya harus dimusnahkan.

Pasca tragedi Al Halajj, maka para ulama fiqh menjaga jarak dengan ulama sufi. Ulama fiqh menilai bahawa ulama sufi semakin liar, baik dalam ajaran mahupun dalam amalan ibadahnya.

Oleh kerana antara keduanya berkonflik dan menjaga jarak, maka muncullah ulama-ulama yang berusaha menjadi penengah dan mendamaikan dua aliran keilmuan itu. Ada nama-nama besar yang menciptakan karya tulis dengan tujuan mencari titik temu antara kedua aliran itu. Di antaranya ialah al Sarrajj menulis kitab “Al Luma`”, al Kalabadzi dengan kitabnya “al-Ta`arruf li Madzab Ahl Al Tashawwuf”, dan Imam Qusyairy dengan kitabnya “al-Risalah fi ilm al-Tashawwuf”.

Bersamaan dengan itu, muncul konsep tentang perjalanan sufi dalam mencapai tingkat ma`rifatullah. Konsep itu kemudian dikenal dengan istilah “maqamat” dan “ahwal”.

 

Halaqah dan Tradisi Pembacaan Zikir

 
Konsep ajaran maqamat dan ahwal mendapat sambutan dari golongan sufi. Perlahan-lahan terbentuklah suatu kelompok atau organisasi. Kelompok tersebut sebagai media pertemuan dalam rangka majlis ilmu. Didalamnya terdapat perbincangan yang membicarakan tentang bentuk-bentuk ibadat, bentuk latihan spiritual yang disebut halaqah. Kemudian berkembang lagi dengan adanya acara tradisi pembacaan zikir. Ketika itu pembacaan zikir dilakukan dimana saja, termasuk di surau atau di masjid.

Tradisi pembacaan zikir dan halaqah kemudian menjadi tersusun. Lalu muncullah bentuk tariqah (jalan spiritual sufi). Semakin lama kelompok ini semakin sempurna sehingga ulama sufi yang dijadikan sebagai guru dinobatkan menjadi pemimpin. Kelompok mereka pun diberi nama. Anggota-anggotanya dibai`at. Bahkan merumuskan zikir dan silsilah yang diyakini sampai kepada sahabat Nabi saw. Sufi yang semula hanya sebagai amalan orang perseorangan (individual) kini berkembang menjadi sebuah organisasi. Pergerakan sufi yang sangat pesat, sehingga menurut tarikh, sejak abad 12 masehi, islam didominasi oleh tarikat, yang sangat berperanan dalam kehidupan sosial dan politik.

Kemudian muncullah ulama besar yang bernama Abu Hamid Al Ghazali yang sangat dikenal dengan sebutan Imam Ghazali. Dimana, Imam Ghazali menyusun kitab tasawuf yang sangat terkenal yaitu Ihya Ulumudin. Imam Ghazali sangat besar sumbangannya terhadap perkembangan sufi di dunia.

Sepeninggal Imam Ghazali, lalu tampil seorang ulama besar bernama Abdul Qadir Al Jailani. Ia dikenal sebagai pendiri tarikat Qadariah dan mulai menyebarkan ajarannya di wilayah Baghdad. Disusul Tarikat Maulawiyah yang dipimpin oleh Jalal al-Din al-Rumi. Sementara Syekh Bahaudin Naqsabandy mendirikan tarikat Naqsabandiyah.

Demikianlah sekilas sejarah perkembangan gerakan sufi. Hal ini perlu diketahui bagi orang yang hendak menempuh jalan sufi. Sebab sangat berbahaya jika seseorang memiliki pengetahuan yang dangkal tentang tasawuf atau tentang ilmu syariat, tetapi tiba-tiba taklik dan ikut melakukan riyadah tarikat. Dikhawatirkan ia tidak pernah tahu, apakah tarikat itu menyimpang (penuh dengan bid`ah) atau benar-benar berjalan di atas Al Qur`an dan As Sunnah.